1. Mulai dari Akun yang Paling Penting
Buat daftar akun berdasarkan dampaknya jika diambil alih. Email utama, layanan perbankan, penyimpanan cloud, akun kerja, dan pengelola kata sandi harus mendapat prioritas pertama. Email sangat penting karena sering dipakai untuk mengatur ulang akses ke layanan lain.
Aktifkan passkey jika layanan menyediakannya. Passkey menggunakan kunci kriptografis yang tersimpan pada perangkat atau pengelola kredensial, sehingga pengguna tidak perlu mengetik kata sandi pada situs. Biometrik seperti sidik jari atau pengenalan wajah biasanya hanya membuka kunci tersebut di perangkat.
2. Pilih MFA yang Tahan terhadap Phishing
Jika passkey belum tersedia, gunakan aplikasi autentikator sebagai pilihan utama. Kode sekali pakai dari aplikasi umumnya lebih aman daripada kode yang dikirim melalui SMS, meskipun tetap bisa dicuri melalui rekayasa sosial atau perangkat yang terinfeksi.
Untuk akun bernilai tinggi, pertimbangkan kunci keamanan fisik yang mendukung standar modern. Simpan setidaknya satu metode pemulihan, tetapi jangan menjadikan nomor telepon sebagai satu-satunya jalan kembali ke akun.
3. Amankan Proses Pemulihan
Perlindungan login akan melemah jika proses pemulihan mudah ditebak. Tambahkan email pemulihan yang aman, simpan kode cadangan di tempat offline, dan periksa perangkat yang masih memiliki sesi aktif. Jangan mengirim kode verifikasi kepada siapa pun, termasuk orang yang mengaku sebagai petugas dukungan.
4. Periksa Kebiasaan Login Setiap Bulan
Tinjau aktivitas akun, aplikasi pihak ketiga, dan daftar perangkat secara berkala. Cabut akses dari layanan yang tidak lagi digunakan. Perbarui perangkat lunak serta browser agar mekanisme keamanan terbaru dapat bekerja dengan baik.
Teknologi bukan pengganti kewaspadaan. Passkey dan MFA paling efektif jika dipadukan dengan kata sandi unik, pembaruan rutin, serta kebiasaan memeriksa alamat situs sebelum login. Dengan tujuh langkah ini, keamanan akun menjadi proses yang terukur, bukan sekadar pengaturan yang dilakukan sekali.